Senin, 15 Juni 2015

AMITRIPTILIN : FARMAKOLOGI


Amitriptilin merupakan obat antidepresi dengan efek sedatif. Mekanisme kerjanya pada manusia tidak diketahui. Obat ini bukan suatu penghambat monoaminoksidase dan tidak bekerja dengan merangsang sistem saraf pusat.
Amitriptilin menghambat mekanisme pompa membran yang bertanggung jawab untuk proses ambilan norepinefrin dan serotonin pada neuron adrenergik dan serotonergik. Secara farmakologik, efek ini dapat memperkuat atau memperpanjang aktifitas neuron karena prosen ambilan dari amin biogenik ini secara fisiologik penting dalam menghentikan aktifitas transmisi. Pengaruhnya terhadap proses ambilan kembali norepinefrin atau serotonin diduga oleh beberapa ahli mendasari aktifitas antidepresi amitriptilin.




INDIKASI DAN CARA PENGGUNAAN :


Untuk menghilangkan gejala depresi. Depresi endogen cenderung lebih mudah ketimbang depresi jenis lain.


KONTRA INDIKASI :

Amitriptilin di kontra indikasikan pada pasien yang pernah mengalami reaksi hipersensitivitas terhadap obat ini.
Obat ini jangan diberikan secara bersama-sama dengan penghambat monoaminoksidase. Krisis hiperpireksia, kejang-kejang berat dan kematian telah terjadi pada pasien yang mendapat antidepresi trisiklik dan obat penghambat monoaminoksidase secara bersama-sama. Penghambat monoaminoksidase jika diinginkan diganti dengan amitriptilin, minimum diperlukan selang waktu selama 14 hari setelah obat yang pertama dihentikan. Setelah itu amitriptilin harus diberikan dengan hati-hati dengan peningkatan dosis secara bertahap, sampai tercapai proses respons optimal.
Obat ini tidak direkomendasikan untuk digunakan selama fase pemulihan akut setelah infark miokard.


PERINGATAN :

Amitriptilin harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat kejang, dan disebabkan oleh efek atropine-like"nya, obat ini juga tidak boleh digunakan pada pasien dengan riwayat retensi urin, glaukoma sudut tertutup atau meningkatnya tekanan intraokuler. Pada pasien dengan glaukoma sudut tertutup, dosis kecil sekalipun dapat mencetuskan suatu serangan. Pasien dengan kelainan kardiovaskular harus diawasi secara ketat. Jika amitriptilin diberikan dalam dosis yang besar, dilaporkan dapat terjadi aritmia, sinus takikardia dan pemanjangan waktu konduksi. Infark rniokard dan stroke telah dilaporkan terjadi dengan obat-obat antidepresi trisiklik. Aniitriptilin harus diberikan dengan pengawasan ketat pada pasien hipertiroid atau pasien yang, sedang mendapat obat-obat tiroid.

Penggunaan pada kehamilan:
Efek teratogenik tidak ditemukan pada mencit, tikus atau kelinci pada pemberian amitriptilin secara oral sampai 13 kali dosis yang dianiurkan untuk manusia. 
Meskipun demikian, amitriptilin temyata menimbulkan efek teratogenik pada binatang mencit dan tupai jika diberikan dosis 9-33 kali dosis maksimum yang dianjurkan pada manusia. 
Amitriptilin ciapat menembus plasenta. Meskipun hubungan sebab akibat belum dapat dibuktikan, ada beberapa laporan mengenai timbulnya efek samping seperti efek susunan saraf pusat, deformitas anggota gerak atau hambatan perkembangan pada bayi yang ibunya menelan amitriptilin selama kehamilan. 
Tidak ada penelitian yang adekuat maupun terkontrol dengan baik pada wanita hamil. Amitriptilin harus digunakan pada kehamilan hanya jika manfaatnya terhadap si ibu melebihi potensi resikonya terhadap janin.

Ibu menyusui: Amitriptilin diekskresi ke dalam air susu. 
Disebabkan potensi efek samping yang berbahaya akibat amitriptilin pada bayi yang menyusu, perlu diambil suatu keputusan apakah si ibu tidak menyesui lagi atau menghentikan obatnya, dengan mempertimbangkan kepentingan obat tersebut untuk si ibu.

Penggunaan pada anak :
Disebabkan tidak adanya pengalaman mengenai penggunaan obat ini pada anak-anak, ia tidak direkomendasikan untuk pasien di bawah usia 12 tahun. 


PERHATIAN :

Pada pasien skizofrenia dapat memperberat gejala psikosisnya, demikian juga pada pasien dengan gejala paranoid. Pasien dengan depresi, terutama yang menderita kelainan manik depresif, dapat mengalami pergeseran ke arah mania atau hipomania. Pada keadaan ini dosis amitriptilin dapat dikurangi atau dapat diberikan secara bersama-sama dengan suatu antipsikotik seperti perfe nazit. 
Kemungkinan bunuh diri pada pasien depresi masih dapat terjadi sampai timbul remisi bermakna. Pasien-pasien yang mempunyai potensi bunuh diri tidak boleh menyimpan obat ini dalam jumlah yang besar. Jika mungkin, obat harus dihentikan beberapa hari sebelum melakukan pembedahan elektif. 
Telah dilaporkan timbulnya peningkatan dan penurunan kadar gula darah. 
Amitriptilin harus diberikan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati. Pasien yang sedang mendapat terapi amitriptilin harus diberitahu mengenai kemungkinan timbulnya gangguan mental atau gangguan fisik yang dapat berbahaya untuk dapat mengoperasikan mesin atau mengendarai kendaraan.



INTERAKSI OBAT :

Amitriptilin dapat mengharnbat efek antihipertensi guanitidinatau obat yang mempunyai kerja yang mirip dengan guanitidin. 
Amitriptilin meningkatkan respons alkohol dan efek barbiturat maupun depresi susunan saraf pusat yang lain. Delirium dilaporkan terjadi pada pemberian amitriptilin bersama-sama dengan disulfiram. Jika amitriptilin diberikan bersama obat antikolinergik atau simpatomimetik, seperti epinefrin yang dikombinasi dengan anestetik lokal, maka perlu dilakukan pengawasan ketat dan penyesuaian dosis secara hati-hati. Hiperpireksia pernah dilaporkan bila amitriptilin diberikan bersama obat antikolinergik atau obat neuroleptik, terutama di tempat iklim yang panas. 
Ileus paralitik dapat timbul pada pasien yang menelan antidepresi trisiklik dalam kombinasi dengan obat yang mempunyai efek antikolinergik.
Simetidin menurunkan metabolisme hati antidepresi trisiklik tertentu, karena itu memperlambat eliminasi dan meningkatkan kadar obat-obat ini dalam darah. 
Pemberian amitriptilin bersama-sama terapi syok elektrik dapat mernperbesar bahaya terapi semacam ini. Terapi semacam ini harus dibatasi untuk pasien yang betul-betul memerlukan nya.


EFEK SAMPING :

Kardiovaskular : 
Infark miokard, stroke, perubahan EKG non-spesifik, perubahan konduksi AV blokjantung, aritnia, hipotensi terutama hipotensi ortostatik, sinkope, hipertensi, takikardia, palpitasi. 
Susunan saraf pusat dan neuromuskular: 
Coma, kejang, halusinasi, delusi, keadaan konfusi, disorientasi, inkoordinasi, ataksia, tremor, neuropati perifer, kematian rasa, rasa geli, parestesi pada anggota gerak, gejala ekstra piramidal, disartria, gangguan konsentrasi, rasa gembira, ansietas, insomnia, gelisah, mimpi buruk, mengantuk, pusing, lemah, letih, sakit kepala, gangguan sekresi ADH, tinitus dan perubahan pola EEG.

Antikolinergik : 
Ileus paralitik, hiperpireksia, retensi urin, dilatasi saluran kemih, konstipasi, penglihatan kabur, gangguan akomodasi, peningkatan tekanan intraokular, midriasis da mulut kering. 

Alergi : 
Ruam kulit, urtikaria, fotosensitisasi, edema wajah dan lidah. 

Hematologi :  
Agranulositosis, lekopenia, trombositopenia, purpura dan bosinofilia. 

Saluran cerna : 
Jarang sekali timbul hepatitis, mual, rasatidak enak di daerah epigastrium, muntah, anoreksia, stomatitis, rasa kecap yang ganjil, diare, pembengkakan kelenjar parotis dan lidah bewarna hitam.

Endokrin : 
Pembengkakan testis dan ginekomastia pada pria, pembesaran payudara dan galaktore pada wanita, peningkatan atau penurunan libido, impotensi, peningkatan atau penurunan kadar, gula darah.

Lain-lain : 
Alopesia, edema, penurunan atau peningkatan berat badan, polakisuria, keringat berlebih dan sindroma "lupus like". 

Gejala putus obat: 
Setelah pemberian jangka paniang, penghentian obat secara mendadak dapat menimbulkan gejala mual, sakit kepala dan malaise. Penurunan dosis secara bertahap dalam 2 minggu dilaporkan menyebabkan gejala sementara seperti iritabilitas, gelisah, gangguan tidur disertai rnimpi. Gejala-gejaila ini bukan merupakan petunjuk suatu adiksi. Pada keadaan yang sangat jarang, dilaporkan timbulnya mania atau hipomania dalam 2-7 hari setelah penghentian terapi kronik dengan antidepresi trisiklik. 



TAKAR LAYAK :

Dosis yang tinggi dapat menyebabkan konfusi sementara, gangguan konsentrasi atau halusinasi penglihatan sementara. Takar lajak menimbulkan rasa kantuk, hipotermia, takikardia, aritnia, gagal jantung kongestif, dilatasi pupil, gangguan motilitas okular, kejang-kejang, hipotensi berat, stupor, coma, poliradi-kuloneuropati. 
Semua pasien yang diduga mengalami takar lajak harus segera dirawat di rumah sakit. Pengobatan bersifat simptomatik dan suportif. Kosongkan lambung secepat 
mungkin dengan perangsangan muntah melalui bilasan lambung pada saat tiba di rumah sakit, setelah itu dapat diberikan arang aktif. Arang aktif sebanyak 20-30 g dapat diberikan tiap 4-6 jam selama 24-48 jam setelah pasien menelan obat. Pemeriksaan EKG perlu dilakukan dan dilakukan pemantauan fungsi jantung 
secara ketat jika ada tanda-tanda kelainan. Pertahankan saluran napas yang bebas dan asupan cairan secara cukup, serta pertahankan suhu tubuh. 
Fisostigmin salisilat 1-3 mg secara intravena dilaporkan dapat memulihkan gejala keracunan antidepresi tisiklik.

Dosis ini dapat diulang sesuai keperluan. Aritmia jantung dapat diobati dengan neostigmin, piridostigmin atau propanolol jika terjadi gagal jantung, pemberian digitalis perlu dipertimbangkan. Pemantauan fungsi jantung secara ketat dianjurkan paling tidak dilakukan selama 5 hari. 
Jika terjadi kejang-kejang dianjurkan pemberian anestetik inhalasi, diazepam atau paraldehid. Dialisis tidak berguna disebabkan kadar plasma obat yang rendah. 


DOSIS DAN CARA PEMBERIAN :

Oral : 
Dosis harus dimulai dengan dosis rendah dan ditingkatkan secara bertahap, dengan memperhatikan secara seksama respons klinik dan tanda-tanda 
timbulnya intoleransi. Dosis awal untuk dewasa: untuk pasien berobat jalan 
umumnya amitriptilin 75 mg sehari dalam dosis terbagi dianggap cukup. Jika perlu, dosis ini dapat ditingkatkan sampai 150 mg sehari. 
Peningkatan dosis sebaiknya dilakukan sore atau sebelum tidur. Efek sedatif dapat timbul sebelum efek antidepresi muncul dan efek terapi yang adekuat memerlukan waktu sampai 30 hari. Metode alternatif untuk memulai terapi pada pasien berobat jalan adalah dengan mulai memberikan amitriptilin 50-100 mg sebelum tidur. Ini dapat ditingkatkan sebesar 25 atau 50 mg sebelum tidur jika perlu, sampai mencapai total sebesar 150 mg sehari. 
Pasien yang dirawat di rumah sakit mungkin memerlukan 100 mg sehari sebagai dosis awal. Ini dapat ditingkatkan secara bertahap sampai 200 mg sehari jika perlu. Sejumlah kecil pasien yang dirawat memerlukan sampai 300 mg sehari. 
Remaja dan pasien usia lanjut : secara umum dianjurkan dosis kecil pada pasien-pasien ini; 10 mg 3 kali sehari ditambah 20 mg sebelum tidur dianggap cukup pada remaja dan pasien usia lanjut yang tidak dapat mentoleransi dosis tinggi. 

Dosis penunjang : dosis penunjang lazim amitiptifin adalah 50-100 mg sehari. Pada pasien-pasien tertentu 40 mg sehari sudah mencukupi. Untuk terapi penunjang, dosis total harian dapat diberikan sebagai dosis tunggal dan sebaiknya diberikan sebelum tidur. Jika perbaikan dianggap memuaskan, dosis dapat diturunkan sampai dosis terkecil yang dianggap masih efektif. Umumnya terapi penunjang dilanjutkan selama 3 bulan atau lebih untuk mengurangi kemungkinan kambuh.

Suntikan intra muscular : 
Dosis awal adalah 20-30 mg 4 kali sehari. Jika suntikan amitriptilin digunakan sebagai terapi awal pada pasien yang tidak dapat atau tidak mau menelan tablet 
amitriptilin, maka segera setelah keadaan memungkinkan suntikan harus diganti dengan tablet.


NAMA OBAT DAN PRODUSEN AMITRIPTILIN

MUTABON D, MUTABON M (Schering Plough)





dilansir dari buku "Daftar Obat Indonesia ( DOI )", Edisi 11  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar